Mari Kita Bicara Tentang Kehidupan
Posted: Maret 6, 2009 by deezeeka in IslamTag:bicara, Hakikat, hakikat kehidupan, Harun Yahya, Hasan Al-Banna, kehidupan
Tahu apa kau tentang kehidupan? Dalam kacamata orang awam, kehidupan berarti menjalani. Dalam perspefktif orang-orang yang berjiwa besar, kehidupan adalah tranformasi. Itu berarti perubahan. Seperti yang dikatakan Rasulullah saw, Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Seperti kata Sayiidina Hasan Al Banna sesungguhnya kemarin adalah impian yang telah berlalu, hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Atau seorang presiden pernah berkata, jangan tanya apa yang diberikan hidup padamu, tapi tanyakanlah apa yang kamu berikan untuk hidup itu sendiri. Semua bergantung pada kamu. Kamu mau melakukan apa hari ini? Apakah hanya duduk-duduk saja, tanpa melakukan hal yang berarti. Hidup hanya untuk diri sendiri. Lahir, hidup, lalu mati. Atau kamu akan melakukan suatu hal yang bermanfaat untuk orang lain? Inginkah kamu, menjadi sejarah? Atau ingin menjadi orang yang membuat sejarah? Menjadi sejarah kamu mungkin hanya dianggap manusia masa lalu yang pernah hidup dalam kehidupan masa lampau. Membuat sejarah berarti, kamu adalah orang sukses yang pernah hidup di masa lalu, namun kamu seakan-akan tetap hidup sampai beratus-ratus abad lamanya, akibat buah pemikiran dan karya yang kamu hasilkan semasa kamu hidup. Tak banyak orang, yang sadar bahwa dirinya hanya hidup di dunia ini hanya sekejap mata saja. Layaknya orang tidur, lalu ketika bangun ia merasa bingung, dimana saya? Seperti itu. Titik lemahnya manusia terukir dalam kejadian sehari-hari. Saya pernah membaca buku Fakta-Fakta yang Mengangkat Rahasia Hidup yang ditulis oleh ilmuwan muslim terkenal Harun Yahya. Titik lemah manusia ada ketika manusia mengkhawatirkan penampilannya. Betapa ia merasa jengkel akan adanya keriput, kerutan di wajah. Padahal sesungguhnya itulah yang disebut dengan Sunatullah. Tak seorang pun manusia yang dapat luput darinya. Mengapa manusia mandi? Karena manusia lemah. Beberapa jam saja setelah mandi, kulit akan kotor karena proses sekresi melalui keringat. Beberapa meni saja meski kepala kita ditutup jilbab, rambut kita akan terasa kotor karena keringat. Sadarilah, itulah kelemahan kita sebagai manusia. Jika ada yang merasa dirinya adalah segalanya. Cantik, Tampan, Cerdas. Sadarilah, semua itu tidak berarti apa-apa dibandingkan amal kita. Semuanya akan menjadi tua. Semuanya akan mati. Itulah Sunatullah. Tidak ada seorang pun manusia yang dapat luput dari Qadar Allah SWT.
Sangat mengagumkan cara otak kita bekerja. Sebenarnya tidak ada bulatan hijau, dan bulatan pink sebenarnya juga tidak menghilang. Rasanya cukup membuktikan bahwa kita tidak selalu melihat apa yang kita pikir kita melihatnya –> dengan kata lain, kita “melihat” bukan apa adanya, tapi “sebagaimana kita melihat” sesuatu…
Kadang kita merasa menghadapi suatu masalah yang “sangat sulit” atau “sangat berat” (baik di tempat kerja, di keluarga, di lingkungan masyarakat,maupun masalah pribadi diri sendiri), bahkan kadang bisa terlintas di benak kita, kenapa demikian berat beban masalah/cobaan yang kita terima ? (padahal kalau kita menerima anugrah/hadiah/ kenikmaran yang demikian besar, kita tidak pernah mempertanyakan nya, kenapa kok saya yang menerima). Dan kadang kita lupa dg doa : berilah beban yang aku sanggup memikul nya….
Berat – ringan, kecil – besar, masalah – bukan masalah, sedih-gembira, hukuman-pahala, derita/nestapa- bahagia.. ..dst. bukankah hanya cara pandang kita tentang “sesuatu” ?
Perihal, peristiwa, kejadian tetap sama, namun dengan sudut pandang yang berbeda (kita coba geser cara pandang) dan me-makna-i nya dengan cara yang berbeda, maka hasil nya juga akan berbeda. Semua hanya ada di benak kita sendiri !
Otak kita lah yang membuatnya berbeda ! Peristiwa bisa sama, namun kalau kita memaknai/memandang nya sebagai hal yang positif, bermanfaat, mengambil pelajaran, maka hasil nya akan demikian. Dan tentu sebaliknya.. .
Terlampir meneruskan kiriman dari seorang rekan yang membuktikan bahwa “cara kerja” otak kita ternyata “melihat” sesuatu bukan apa ada- nya, tapi sebagaimana kita melihat nya. Teringat salah satu ungkapan dari seorang sahabat (dalam bahasa Jawa) :”Sing ora ono iku sejatinya ono, sing ono iku sejati-ne dudu…” (yang tidak ada/nampak itu sejatinya ada, yang ada/tampak itu sejatinya bukan…”.
Sekedar renungan untuk kehidupan…. . Semoga ada manfaat nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar